Strategi Belajar Mengajar


BAB I

PENDAHULUAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik.Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan.Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.

Ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lainnya:

à Aspek intelektual

à Aspek psikologis

à Biologis

Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik di sekolah.Keluhan-keluhan guru sering terlontar hanya karena masalah sukarnya mengelola kelas. Akibat kegagalan guru mengelola kelas, tujuan pun sukar untuk dicapai. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik pula. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti.

Suatu gangguan yang datang dengan tiba-tiba dan diluar kemampuan guru adalah kendala spontanitas dalam pengelolaan kelas. Media sumber belajar adalah alat bantu yang berguna dalam kegiatan belajar mengajar. Alat bantu dapat mewakili sesuatu yang tidak dapat disampaikan guru via kata-kata atau kalimat Pengembangan variasi mengajar yang dilakukan oleh guru pun salah satunya adalah dengan memanfaatkan variasi alat bantu baik dalam hal ini variasi pandang, variasi dengar maupun  variasi media taktil.

Dalam pengembangan variasi mengajar tentu saja tidak sembarangan, tetapi ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu meningkatkan dan memelihara perhatian anak didik terhadap relevansi proses belajar mengajar, membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah diadakan evaluasi dengan seperangkat item soal yang sesuai dengan beberapa tujuan pembelajaran. Demikianlah beberapa permasalahan yang diuraikan secara umum untuk memberikan pemahaman awal kepada pembaca.

BAB II

KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

1.      PENGERTIAN STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.

Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi:

  1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
  2. Memilih sistem pendidikan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
  3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar keberhasilan sehingga, dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar.

Ada empat masalah pokok yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan pedoman buat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

à Pertama, spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku yang bagaimana diinginkan sebagai hasil belajar mengajar yang dilakukan itu.

à Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif untuk mencapai sasaran.

à Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif.

à Keempat, menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai pegangan yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya.

2.      KLASIFIKASI STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

Menurut Tabrani Rusyan dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut:

  1.  Konsep dasar strategi belajar mengajar
  2. Sasaran kegiatan belajar
  3. Belajar mengajar sebagai suatu sistem
  4. Hakikat proses belajar
  5. Entering behavior siswa
  6. Pola-pola belajar siswa
  7. Memilih sistem belajar mengajar
  8. Pengorganisasian kelompok belajar
  9. Pengelolaan atau implementasi proses belajar mengajar

Konsep dasar strategi belajar mengajar

Meliputi antara lain:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
  2. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap belajar mengajar.
  3. Memilih prosedur.
  4. Menerapkan norma.
  5. Sasaran kegiatan belajar

Setiap kegiatan belajar mempunyai tujuan antara lain:

  1. Tujuan instruksional khusus dan tujuan instruksional umum
  2. Tujuan kurikuler
  3. Tujuan nasional
  4. Tujuan yang bersifat universal

Pada tingkat sasaran atau tinjauan yang universal, manusia diidamkan tersebut harus memiliki klasifikasi:

  1. pengembangan bakat secara optimal
  2. hubungan antar manusia
  3. efisiensi ekonomi
  4. tanggung jawab selaku negara
  5. Belajar mengajar sebagai suatu sistem

Mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan.

Secara khusus dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat administrator dan lain-lain.

  1. Hakikat Proses Belajar

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan

  • Entering Behavior Siswa

Hasil kegiatan belajar mengajar tercermin dalam perubahan perilaku, baik secara material-substansial.

  • Pola-pola Belajar Siswa

Robert M. Gagme, membedakan pola belajar menjadi delapan antara lain:

  • Signal learning (belajar isyarat)
  • Stimulus-response learning (belajar stimulasi respon)
  • Chaining (rantai atau rangkaian)
  • Verbal association (asosiasi verbal)
  • Discrimination learning (belajar kriminasi)
  • Concept learning (belajar konsep)
  • Rule learning (belajar aturan)
  • Problem solving (memecahkan masalah)

Keterangan

  1. Signal learning yaitu tahap yang paling dasar jadi tidak menuntut persyaratan, namun merupakan hierarki.
  2.  Stimulus-response learning. Tipe belajar ini digolongkan dalam jenis clasical condition, maka tipe belajar 2 ini termasuk ke dalam instrumental conditioning.
  3. Chaining (rantai atau rangkaian) yaitu belajar yang menghubungkan satuan ikatan S-R (simulus respon) yang satu dengan lain.
  4. Verbal association (asosiasi verbal) yaitu belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan lain
  5. Discrimination learning atau belajar mengadakan pembeda.
  6. Concept learning (belajar konsep) yaitu belajar pengertian berdasarkan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus.
  7. Rule learning (belajar aturan) yaitu belajar membuat generalisasi hukum, dan kaidah.
  8. Problem solving yaitu belajar memecahkan masalah
  9. Memilih Sistem Belajar Mengajar

Sistem pengajaran ini antara lain:

  1. enquiry discovery approach
  2. expository approach
  3. mastery learning
  4. humanistic education

Keterangan

  1. Enquiry discovery approach

Yaitu belajar mencari dan menemukan sendiri.

Secara garis besar prosedurnya sebagai berikut:

  1. Simulation
  2. Problem statement
  3. Data collection
  4. Data processing
  5. Verification atau pembuktian
  6. Generalization

Pendekatan belajar ini sangat cocok untuk materi pelajaran yang bersifat kognitif.

  1. Ekspository learning

Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis dan lengkap.

Secara garis besar prosedurnya, sebagai berikut:

  1. Preparasi
  2. Apersepsi
  3. Presentasi
  4. Resitasi
  5. Mastery learning

Yaitu guru harus mengusahakan upaya-upaya yang dapat mengantarkan kegiatan anak didik ke arah tercapainya penguasaan penuh terhadap pelajaran yang diberikan.

  1. Humanistic Education

Bahwa kemampuan dasar kecerdasan para siswa sangat bervariasi secara individual

3.   IMPLEMENTASI BELAJAR MENGAJAR

Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi. Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah “Job description” yaitu proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa.

Komponen-komponen dalam belajar mengajar antara lain:

  1. Merencanakan yaitu mempelajari masa mendatang dan menyusun rencana kerja
  2. Mengorganisasi yaitu membuat organisasi, usaha, manajer, tenaga kerja dan bahan.
  3. Pengkoordinasikan yaitu menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan
  4. Mengawasi yaitu memeriksa agar segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan peraturan yang digariskan dan instruksi-instruksi yang diberikan.

Belajar mengajar maupun, belajar keterampilan proses mempunyai ciri-ciri yaitu:

  1. Menekankan pentingnya makna belajar untuk mencapai hasil belajar yang memadai
  2. Menekankan pentingnya keterlibatan siswa di dalam proses belajar
  3. Menekankan bahwa belajar adalah proses dua arah yang dapat dicapai oleh anak didik.
  4. Menekankan ahli belajar secara tuntas dan utuh.

Tujuan pengajaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam pengajaran. Dalam perumusan tujuan instruksional khusus perlu dipertimbangkan hal-hal:

  1. kemampuan dan nilai-nilai apa yang ingin dikembangkan pada diri sendiri
  2. bagaimana cara mencapai tujuan itu secara bertahap atau sekaligus
  3. apakah perlu menekankan aspek-aspek tertentu
  4. seberapa jauh tujuan itu dapat memenuhi kebutuhan perkembangan siswa
  5.  apakah waktu yang tersedia cukup untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Perlu diketahui bahwa proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar tersebut.

                                                                                                                         BAB III

HAKIKAT CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

A.    Hakikat Belajar Mengajar

Pada dasarnya, belajar merupakan proses perubahan yang terjadi didalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktifitas belajar. Dalam hal kegiatan belajar mengajar, peserta didik mempunyai dua kedudukan. Yaitu sebagai subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Inti dari proses pengajaran adalah tercapainya suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran dapat tercapai jika peserta didik juga aktif mencapainya.

Mengajar merupakan kegiatan mutlak yang memerlukan keterlibatan pesertadidik. Kegiatan belajar mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik. Sedangkan bagi para peserta didik, kegiatan belajar tidak selamanya harus memerlukan kehadiran guru. Guru mengajar dan peserta didik belajar merupakan dwi tunggal dalam perpisahan raga jiwa bersatu antara guru, dan peserta didik.

Permasalahan umum juga sering dihadapi guru ketika berhadapan peserta didik adalah masalah pengelolaan kelas, apa, siapa, bagaimana, kapan, dan dimana yang berhubungan dengan pengelolaan kelas. Guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif agar menarik peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar demi tercapainya keberhasilan peserta didik. Pada hakikatnya, mengajar merupakan proses mengatur, mengorganisasi lingkungan sekitar peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Menurut Nana Sudjana, mengajar merupakan proses memberikan bimbingan bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar. Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat peserta didik yang cepat mencerna bahan dan ada yang lamban. Hal ini menuntut guru agar mengatur strategi pembelajarannya yang sesuai gaya belajar peserta didik. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah ‘’Perubahan’’ maka hakikat belajar mengajar adalah proses ‘’pengaturan’’ yang dilakukan oleh guru.

B.     Ciri ciri belajar mengajar

Belajar mengajar sebagai suatu proses pengaturan, menurut Edi Suardi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Belajar mempunyai tujuan

Yaitu untuk membentuk peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu. Dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat perhatian. Anak didik mempunyai tujuan, usaha lainnya sebagai pengantar dan pendukung.

  1. Terdapat prosedur (jalannya interaksi) yang sudah direcanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Agar tercapainya tujuan secara optimal, dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur, atau langkah-langkah sistematik atau relevan.
  2. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan suatu penggarapan materi yang khusus. Materi harus didesain sehingga cocok untuk mencapai tujuan.

Ditandai dengan aktifitas peserta didik. Peserta didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

  1. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing. Guru harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
  2. Dalam kegiatan belajar membutuhkan disiplin. Disiplin diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati oleh guru maupun peserta didik.
  3. Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembaelajaran, maka setiap tujuan akan diberi waktu tertentu kapan tujuan tersebut dapat tercapai.
  4. Evaluasi. Evaluasi dilakukan oleh guru untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah dilakukan.

C.    Komponen – komponen belajar mengajar

1) Tujuan

Tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan merupakan suatu cita-cita yang ingin dcapai dalam kegiatannya. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normative. Dengan kata lain dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan pada peserta didik. Tujuan mempunyai jenjang dari yang luas dan umum sampai kepada yang sempit/khusus. Semua tujuan itu berhubungan antar yang satu dengan yang lainnya, dan tujuan dibawahnya menunjang diatasnya. Hal ini berarti bahwa dalm merumuskan tujuan harus benar-benar memperhatikan kesinambungan setiap jenjang tujuan dalam pendidikan dan pengajaran.

Tujuan merupakan komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya, seperti bahan pengajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan alat evaluasi. Menurut Ny. Dr. Roestiyah N. K (1989;44) menyatakan bahwa tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita ajarkan

2) Bahan pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Dua persoalan yang terdapat penguasaan bahan pelajaran pokok, dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuan). Sedangkan bahan pelajarn pelengkap adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok.

Bahan merupakan salah satu sumber belajar bagi peserta didik. Bahan yang disebut sebagai sumber belajar(pengajaran) adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran, menurut Sudirman N. K, (1990) merupakan unsur inti yang ada didalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai oleh anak didik. Oleh karena itu, guru khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak boleh lupa harus memikirkan sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabi berkaitan dengan kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan lingkungan tertentu. Minat anak didik akan bangkit bila sesuatu yang diajarkan sesuai dengan kebuutuhan anak didik. Jadi, bahan pelajaran yang sesuai dengan anak didik akan memotivasi anak didik dalam jangka waktu tertentu. Aktivitas anak didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang guru berikan tidak atau kurang menarik perhatian. Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab  bahan adalah inti dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.

3) Kegiatan belajar mengajar

Kegiatan belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan dalam pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan telah ditetapkan telah dicapai. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru, dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam hal ini, anak didik lebih berperan aktif, sedangkan guru hanya bekerja sebagai motivator dan fasilitator.

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual. Pemahaman pada ketiga aspek tersebut, dapat memudahkan guru dalam pendekatan master learning. Master learning adalah salah satu strategi belajar pendekatan individual (Drs. Muhammad Ali, 1992;94). Master learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan program perbaikan(Drs. Suharsini Arikunto, 1998;31). Dalam kegiatan belajar mengajar guru akan menemui anak didiknya sebagian ada yang kurang menguasai bahan pelajaran secara tuntas(mastery), dan ada pula yang tuntas. Dengan  demikian kegiatan belajar mengajar dapat ditentukan , dan akan berpengaruh terhadap tujuan yang akan dicapai.

4) Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode yang diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang akan dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satupun metode yang telah dirumuskan oleh para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah). Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad, M. Sc. Ed, mengemukakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode belajar sebagai berikut :

v  Tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya.

v  Anak didik yang berbagai-bagai tingkat kematangannya.

v  Situasi yang berbagai-bagai keadaannya.

v  Fasilitasnya yang berbagai-bagai kualitas dan kuatitassnya.

v  Pribadi guru dan kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

5) Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran adalah alat yang mempunyai fungsi sebagai alat perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan dan alat sebagai tujuan(Drs. Ahmad D. Marimba, 1989;51).

Alat dapat dibagi menjadi dua macam yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pengajaran adalah berupa globe, diagram, slide, video dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan pengajaran menjadi alat material dan nonmaterial. Alat material termasuk alat bantu audiovisual dalam kegiatan belajar mengajar sangat didukung oleh Dweyer (1967), salah seorang tokoh aliran realism. Aliran realisme berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika digunakan bahan-bahan audiovisual yang mendekati realitas. Menurut Miller, dkk(1957), lebih banyak sifat bahan audiovisual yang menyerupai realisasi, makin mudah terjadi belajar.

Sebagai alat bantu dalam pendidikan dan pengajaran, alat material (audiovisual) mempunyai sifat sebagai berikut :

  • Kemampuan untuk meningkatkan persepsi.
  • Kemampuan untuk meningkatkan perhatian.
  • Kemampuan untuk meningkatkan transfer(pengalihan) belajar.
  • Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinfirontment) atau pengetahuan hasil yang dicapai.
  • Kemampuan untuk meningkatkan retensi ingatan.

6) Sumber pengajaran.

Sumber-sumber bahan dan belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang(Drs. Udin Saripuddin Winata putra, M.A dan Drs. Rustana Ardiwinata , 1991; 165). Dengan dengan demikian, sumber belajar merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Karena pada hakikatnya, belajar merupakan proses untuk  mendapatkan perubahan.

Menurut Ny. Dr. Roestiyah, N. K(1989;53) mengatakan bahwa sumber belajar adalah :

a)      Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat).

b)      Buku /perpustakaan.

c)      Mass media (majalah, surat kabar, radio, tv).

d)     Dalam lingkungan.

e)      Alat pelajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, dan lain-lain).

f)       Museum.

Menurut  Drs. Sudirman N, dkk(1991;203) mengemukakan macam-macam sumber belajar sebagai berikut :

a)      Manusia (people).

b)      Bahan (material).

c)      Lingkungan (setting).

d)     Alat dan perlengkapan (tool and equipment).

e)      Aktivitas (activities)

  1. Pengajaran.
  2. Simulasi.
  3. Karya wisata.
  4. Sistem pengajaran.

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi :

Tujuan khusus yang harus dicapai oleh siswa.

Materi (bahan pelajaran) yang harus dipelajari.

Aktivitas yang harus dilakukan oleh siswa.

Drs. Udin Saripuddin Winata Putra, M. A dan Drs. Rustana Ardiwinata (1991;165) berpendapat bahwa terdapat sekurang-kurangnya lima macam sumber belajar, yaitu :

a)      Manusia .

b)      Buku /perpustakaan.

c)      Alam lingkungan.

  1. Alam lingkungan terbuka.
  2. Alam lingkungan sejarah atau peninggalan sejarah;
  3. Alam lingkungan manusia.

d)     Media pendidikan.

7) Evaluasi .

Dalam bahasa inggris, evaluasi berasal dari kata evaluasion. Dalam buku Essensials of educational evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown, dikatakan bahwa ‘’ evaluation refer to the act or prosses to determining the value something’’. Artinya, evaluasi adalah suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan. Berbeda dengan pendapat, Ny. Dr. Roestiyah, N. K (1989;85) menyatakan evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar. Dari dua definisi tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan penggunaan evaluasi. Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

L . Pasaribu dan Simanjuntak  menegaskan bahwa

Tujuan umum dari evaluasi adalah :

a)      Mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

b)      Memungkinkan pendidik /guru menilai aktivitas / pengalaman yang didapat.

c)      Menilai metode mengajar yang diinginkan.

Tujuan khusus dari evaluasi :

a)      Merangsang kegiatan siswa.

b)      Menemukan sebab-sebab kemajuan/kegagalan.

c)      Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan.

d)     Memperoleh bahan tentang pengembangan siswa yang diperlukan orang tua, dan lembaga pendidikan .

e)      Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar

dan metode mengajar(Abu Ahmadi dan Widodu supriyono).

Dari tujuan tersebut, menurut W. S. Winkel 1989;318, evaluasi proses adalah evaluasi yang diarahkan untuk menilai bagaimana pelaksanaan proses belajar mengajar yang telah dilakukan mencapai tujuan. Apakah dalam proses itu ditemui kendala, dan bagaimana kerja sama tiap komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran. Evaluasi produk adalah suatu evaluasi yang diarahkan kepada bagaimana hasil belajar telah dilaksanakan oleh siswa, dan bagaimana penguasaan siswa terhadap bahan/motivasi pelajaran yang telah guru berikan ketika proses belajar mengajar berlangsung.

Fungsi dari evaluasi bagi guru dan siswa :

Memberikan umpan balik (feed back) bagi guru sebagai dasar untuk memperbaiki proses belajar mengajar.

Memberikan angka yang tepat tentang kemajuan  atau hasil belajar setiap murid.

Untuk menentukan murid didalam situasi belajar mengajar yang tepat, sesuai dengan kemampuan murid.

Mengenali setiap kepribadian murid /latar bg elakang murid yang mengalami kesulitan belajar.

                                                                                                                            BAB IV

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM MENGAJAR

Dalam kegiatan belajar mengajar terjadi interaksi yang mempunyai tujuan. Agar tujuan dari kegiatan tersebut dapat berhasil, guru mempunyai beberapa pendekatan yang dapat membantu guru dalam memecahkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar. Pendekatan – pendekatan tersebut antara lain :

1. Pendekatan Individual

Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, guru perlu menggunakan pendekatan individual, karena guru dalam melaksanakan tugasnya di tuntut melaksanakan pendekatan individual terhadap anak didik di kelas. Persoalan kesulitan belajar pada anak lebih mudah di pecahkan dengan menggunakan pendekatan individual. Dengan pendekatan individual guru dapat mempunyai tingkat penguasaan optimal kepada anak didik.

2. Pendekatan Kelompok

Pendekatan kelompok suatu waktu perlu digunakan untuk membina dan mengembangkan sikap sosial anak didik. Hal ini karena anak – anak sejenis  makhluk homo socius yaitu makhluk yang kecenderungan hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa social yang tinggi pada diri setia anak didik. Membina anak didik untuk mengendalikan rasa egois.Anak didik di ajarkan hidup bersama dan saling bekerja sama dalam kelompok.

Keakraban atau kesatuan kelompok di tentukan oleh ketertarikan interpersonal, atau saling menyukai satu sama lain, keakraban kelompok, di tentukan oleh beberapa factor:

1)      Perasaan diterima atau disukai teman – teman.

2)      Tarikan kelompok.

3)      Teknik pengelompokan oleh guru.

4)      Partisipasi/keterlibatan dalam kelompok.

5)      Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya

6)      Struktur dan sifat kelompok

Sifat – sifat kelompok :

  1. Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu.
  2. Suatu sistem interaksi.
  3. Suatu organisasi atau struktur.
  4. Merupakan suatu motif tertentu atau tujuan bersama.
  5. Suatu kekuatan atau standar prilaku tertentu.
  6. Pola prilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian.

3. Pendekatan Bervariasi

Dalam kegiatan belajar mengajar, guru yang hanya memakai satu metode pembelajaran akan mengalami kesulitan jika pada saat penggunaan metode tersebut mengalami ganguuan. Permasalahan yang di hadapi oleh setiap anak didik biasanya bervariasi, oleh karena itu pendekatanyang lebih tepat di gunakan adalah pendekatan bervariasi. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif sehingga di perlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus oleh karena itu pendekatan variasi ini dapat digunakan sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

4. Pendekatan Edukatif

Pendekatan yang benar bagi seorang guru adalah pendekatan edukatif. Yakni setiap tindakan ,sikap, dan perbuatan yang dilakukan  oleh guru harus bernilai pendidikan ,dengan tujuan mendidik anak didik agar menghargai norma hukum ,norma susila ,norma moral ,norma social ,norma agama. Dengan pendekatan edukatif guru telah meletakkan tujuan untuk membina watak anak didik dengan pendidikan akhlak yang mulia

 5. Pendekatan Pengalaman

Experience is a good teacher ,pengalaman adalah guru yang paling baik. Pengalaman adalah guru yang bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru tanpa jiwa ,namun selalu di cari oleh siapapun juga. Belajar dari pengalaman adalah lebih baik dari pada sekedar bicara dan tidak pernah berbuat sama sekali. Meskipun pengalaman diperlukan dan selalu dicari selama hidup ,namun tidak semua pengalaman mendidik ,karena ada suatu pengalaman yang bersifat tidak mendidik. Pengalaman penting bagi perkembangan jiwa anak. Untuk pendidikan agama islam ,pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan pada siswa dalam rangka penanaman nilai – nilai keagamaan. Sedangkan pengalaman yang edukatif sendiri adalah pengalaman yang berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful),kontinu dengan kehidupan anak, interaksi dengan lingkungan ,dan menambah integrasi anak (menurut witherington).

6. Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Pembiasaan yang baik akan  membentuk sosok manusia yang berkepribadian baik pula. Menanamkan kebiasaan yang baik memang tidak mudah ,dan kadang – kadang makan waktu yang lama. Tetapi sesuatu yang menjadi kebiasaan sukar pula untuk mengubahnya. Maka adalah penting bagi awal kehidupan anak ,menanamkan kebiasaan – kebiasaan yang baik saja dan jangan sekali – kali mendidik anak berdusta ,tidak disiplin ,suka berkelahi ,dan sebagainya. Tetapi tanamkanlah kebiasaan yang berkaitan dengan kebiasaan yang baik – baik.

J.B Watson(1991:291) berpendapat bahwa reaksi – reaksi kodrati yang di bawa sejak lahir itu sedikit sekali. Kebiasaan – kebiasaan itu terbentuk dalam perkembangan ,karena latihan dan belajar. Untuk itu adalah metode latihan (drill) ,pelaksaan tugas ,demonstrasi dan pengalaman langsung di lapangan.

 7. Pendekatan Emosional

Emosi adalah gejala yang ada dalam kejiwaan seseorang. Emosi berhubungan dengan masalah perasaan. Seseorang yang mempunyai perasaan dapat merasakan sesuatu, baik perasaan jasmaniah maupun perasaan rohaniyah. Perasaan rohaniyah didalamnya ada perasaan intelektual ,perasaan estetis ,perasaan etis ,perasaan social ,dan perasaan harga diri . menurut Chalijah hasan (1994:39) merasa adalah aktualisasi kerjadari hati sebagai materidalam struktur tubuh manusia ,dan merasa sebagai aktivitas kejiwaan ini adalah suatu perasaan jiwa yang bersifat subjektif.

Perasaan ,menurut Abu Ahmadi dan Widodo  Supriyono(1991:36) sebagai fungsi jiwa untuk dapat mempertimbangkandan mengukur sesuatu menurut “rasa senang dan tidak senang” mempunyai sifat – sifat yang senang dan sedih/tidak senang ,kuat ,dan lemah ,lama ,dan sebentar ,relative , dan tidak berdiri sendiri sebagai pernyataan jiwa. Emosi atau perasaan adalah sesuatu yang peka. Emosi akan memberi tanggapan (respons) bila ada rangsangan stimulus dari luar diri seseorang. Emosi mempunyai peranan yang penting dalam pembentukan kepribadian seseorang.hal itu menyebabkan pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan di jadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran ,terutama untuk pendidikan agama islam. Pendekatan emosional di maksudkan disini adalah suatu usaha – usaha untuk untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini ,memahami ,dan menghayati agamanya. Untuk mendukung tercapainya tujuan dari pendekatan emosional ini. Metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah metode ceramah ,bercerita ,dan sosiodrama.

8. Pendekatan Rasional

Manusia merupakan makhluk yang di bekali akal oleh Allah SWT. Dengan kekuatan akalnya ,manusia dapat membedakan mana perbuatan baik dan mana yang tidak. Akal atau rasio memang mempunyai potensi menaklukan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Dalam perkembangan di sekolah. Perkembanganberfikir anak harus di bombing kearah yang lebih baik, sampai dengan tingkat usia anak. Perkembangan berfikir anakdari abstrak sampai konkret. Maka pembuktian suatu kebenaran ,dalil ,prinsip ,atau hukam menghendakidari hal – hal yang sederhana menuju ke kompleks. Pembuktian tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah keagamaan harus sesuai dengan tingkat berfikir anak. Usaha yang di lakukan guru adalah memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima kebenaran agama ,termasuk mencoba memahami hikmahdan fungsi ajaran agama. Karena keampuhan akal(rasio) akhirnya di jadikan pendakan rasional guna kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Metode ceramah ,tanya jawab ,diskusi ,kerja kelompok ,latihan ,dan pemberian tugas.

9. Pendakatan Fungsional

Pendekatan fungsional diterpkan di sekolah diharapkan dapat menjembatani harapan untuk mengimplementasikan ilmu dalam kehidupan sehari – hari. Dalam hal ini ada beberapa metode mengajar yang perlu di pertimbangkan antara lain adalah  metode latihan ,pemberian tugas ,ceramah ,tanya jawab ,dan demonstrasi.

10.  Pendekatan Keagamaan

Pendidikan dan pelajaran di sekolah tidak hanya memberikan satu atau dua macam pembelajaran ,tetapi dari banyak mata pelajaran. Pada umumnya ,semua mata pelajaran itu di bagi menjadi mata pelajaran umum dan mata pelajaran agama. Berbagai pendekatan sudah di lakukan untuk kedua jenis pelajaran itu. Penggunaanya di sesuaikan tujuan pembelajaran yang di capai. Khususnya untuk pendekatan pada mata pelajaran umum ,sangat berkepentingan pada pendekatan keagamaan.dengan penerapan prinsip – prinsip mengajar seperti prinsip korelasi dan sosialisasi ,guru dapat menyisipkan pesan – pesan keagamaan untuk semua pelajaran umum. Misalnya saja ,mata pelajaran biologi ,dalam Al-Qur’an surat yassin ayat 34 dan 36 membahas tentang pelajaran biologi. Hal ini membuktikan bahwa pelajaran agama juga tidak bias di lepaskan dari mata pelajaran lain.

Akhirnya ,pendekatan agama dapat membantu guru memperkecil kerdilnya jiwa agama dalam diri siswa ,yang pada akhirnya nilai – nilai agama tidak di cemoohkan dan di lecehkan ,tetapi diyakini ,dipahami ,dihayati ,dan diamalkan secara hayat siswa di kandung badan.

11.  Pendekatan Kebermaknaan

Bahasa merupakan alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran ,pendapat ,dan perasaan ,secara lisan maupun tulisan. Bahasa inggis merupakan bahasa yang di anggap penting dalam rangaka pengembangan ilmu pengetahuan. Kegagalan penguasaan bahasa inggis oleh siswa adalah salah satu sebab kurangnya tepatnya pendekatan yang dilakukan oleh guru. Salah satu alternatif pemecahan masalah itu adalah pendekatan kebermaknaan.

Beberapa konsep penting yang menyadari pendekatan kebermaknaan.

1)      Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur(tata bahas dan kosa kata)

2)      Makna di tentukan oleh lingkup kebahasaan maupun lingkup situasi yang merupakan konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa yang natural , didukung oleh pemahaman lintas budaya.

3)      Makna dapat di wujudkan melalui kalimat yang berbeda  ,baik secara lisan maupun tertulis.

4)      Belajar bahas asing adalah belajar komunikasi melaui bahasa tersebut ,sebagai bahas sasaran ,baik lisan maupun tertulis.

5)      Motivasi siswa adalah factor utama yang menentukan keberhasilan belajar siswa. Kadar motivasi banyak di tentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran siswwa yang bersangkutan.

6)      Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika berhubungan dnegan kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pengalaman  ,minat ,tata nilai ,dan masa depannya.

7)      Dalam proses belajar mengajar ,siswa merupakan subyek utama , tidak hanya sebagai obyek belaka. Oleh karena itu ,cirri – cirri dan kebutuhan mereka harus di pertimbangkan dalam segala keputusan yang terkait denagan pengajaran.

8)      Dalam proses belajar mengajar , guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan ketrampilan berbahasanya.

BAB V

KEDUDUKAN PEMILIHAN DAN PENENTUAN METODE DALAM PENGAJARAN

A.    Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
Metode sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik

Metode merupakan komponen yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman A.M. (1988: 90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar. Dalam penggunaan metode, guru harus menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas serta jumlah siswa. Tujuan instruksional adalah pedoman yang mutlak dalam pemilihan metode. Guru harus menyusun tujuan dengan jelas untuk mempermudah pemilihan metode yang digunakan. Dalam mengajar, guru tidak hanya menggunakan satu metode. Penggunaan satu metode membuat kegiatan belajar mengajar membosankan, anak didik kurang bergairah belajar, dan anak didik merasa malas.

Metode sebagai Strategi Pembelajaran

Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai.

Guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu  langkah untuk menguasai strategi itu adalah harus memiliki teknik-teknik pengajaran atau metode mengajar.

 Metode sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar yang tidak mempunyai tujuan sama halnya ke pasar tanpa tujuan, sehingga sukar untuk menyeleksi mana kegiatan yang harus dilakukan dan diabaikan. Metode adalah salah satu alat untuk mencapai tujuan. Guru sebaiknya menggunakan metode yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.

B. Pemilihan dan Penentuan Metode

Nilai Strategi Metode

Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi edukasi antara guru dan anak didik ketika guru menyampaikan bahan pelajaran. Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pemilihan metode yang salah akan menyebabkan kelas kurang bergairah dan anak didik kurang kreatif. Metode adalah suatu cara  yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.

Efektivitas Penggunaan Metode

Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Banyak bahan pelajaran yang terbuang karena penggunaan metode menurut kehendak guru dan mengabaikan kebutuhan siswa, fasilitas, serta situasi kelas. Guru yang selalu senang menggunakan metode ceramah sementara tujuan pengajarannya adalah agar anak didik memperagakan alat, merupakan kegiatan belajar mengajar yang kurang kondusif. Seharusnya penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran.

Pentingnya Pemilihan dan Penentuan Metode

Guru sebagai salah satu sumber belajar harus menyediakan lingkungan belajar yang kreatif. Salah satu kegiatan yang harus guru lakukan adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Misalnya, tujuan pengajaran adalah agar anak didik dapat menuliskan sebagian dari ayat-ayat dalam  surat Al-Fatihah, maka guru tidak tepat menggunakan metode diskusi, tetapi metode yang tepat adalah latihan.

Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi jika pemilihan dan penentuan metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing metode pengajaran. Guru harus mengetahui kelebihan dan kelemahan dari beberapa metode pengajaran.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode

Winarno Surakhmad (1990: 97) mengatakan, bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:

Anak didik

Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan. Di sekolah guru berhadapan dengan sejumlah anak didik dengan latar belakang yang berbeda-beda, status sosial bermacam-macam, jenis kelamin laki-laki dan perempuan, perbedaan postur tubuh. Dari aspek fisik ini terdapat banyak perbedaan dan persamaan.

Pada aspek intelektual anak didik juga terdapat perbedaan. Hal ini terlihat dari cepat lambatnya anak didik terhadap rangsangan yang diberikan guru, tinggi atau rendahnya kreatifitas anak didik dalam mengolah kesan dari bahan pelajaran yang baru diterima. Dari aspek psikologis juga terdapat perbedaan. Ada yang pendiam, kreatif, cerewet, tertutup (introvert), terbuka (ekstrovert), pemurung, periang dan sebagainya.

Tujuan

Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Tujuan bergerak dari rendah ke tinggi, yaitu tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran, tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, tujuan institusional, dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan intermedier (antara) yang paling langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Tujuan pembelajaran dikenal ada dua, yaitu TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus).

Perumusan Tujuan Instruksional Khusus, misalnya akan mempengaruhi kemampuan yang bagaimana yang terjadi pada diri anak didik. Metode yang guru pilih harus sejalan dengan taraf kemampuan yang hendak diisi ke dalam diri setiap anak didik. Artinya, metodelah yang harus tunduk kepada kehendak tujuan dan bukan sebaliknya.

Situasi

Guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang berbeda. Guru juga harus memilih metode mengajar yang sesuai dengan situasi yang diciptakan. Guru menciptakan lingkungan belajar secara berkelompok. Anak didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dan dalam kelompok masing-masing diserahi tugas oleh guru untuk memecahkan suatu masalah. Guru menggunakan metode problem solving. Sehingga situasi yang diciptakan guru mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode.

Fasilitas

Fasilitas adalah kelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Ketiadaan laboratorium IPA, misalnya, kurang mendukung penggunaan metode eksperimen atau metode demonstrasi.

Guru

Setiap  guru mempunyai kepribadian yang berbeda. Latar belakang pendidikan guru mempengaruhi kompetensi. Kurangnya penguasaan terhadap berbagai jenis metode menjadi kendala dalam memilih dan menentukan metode. Itulah yang biasanya dirasakan oleh mereka yang bukan berlatar belakang pendidikan guru. Dengan demikian, dapatlah dipahami bahwa kepribadian, latar belakang pendidikan, dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.

C.    Macam-macam Metode Mengajar
Metode Proyek

Metode proyek atau unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna. Dalam penggunaan metode proyek memiliki kelebihan dan kekurangan.

a. Kelebihannya

1)      Dapat memperluas pemikiran siswa yang berguna dalam menghadapi masalah kehidupan.

2)      Dapat membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam kehidupan sehari-hari secara terpadu.

3)      Metode ini sesuai dengan prinsip-prinsip didaktik modern yang dalam pengajaran perlu diperhatikan:

a)      Kemampuan individual siswa dan kerja sama dalam kelompok.

b)      Bahan pelajaran tak terlepas dari kehidupan riel sehari-hari yang penuh dengan masalah.

c)      Pengembangan aktivitas, kreativitas dan pengalaman siswa banyak dilakukan.

d)     Agar teori dan praktek, sekolah dan kehidupan masyarakat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

b. Kekurangannya

1)      Kurikulum yang berlaku di Indonesia saat ini, baik secara vertikal maupun horisontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.

2)      Pemilihan topik unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas dan sumber-sumber belajar yang diperlukan, bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah.

3)      Bahan pelajaran yang sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

Metode Eksperimen

Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan, atau proses sesuatu.

Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

Kelebihannya

1)      Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.

2)      Dalam membina siswa untuk memberi terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

3)      Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.

Kekurangannya

1)      Metode ini sesuai untuk bidang sains dan teknologi.

2)      Metode ini memerlukan berbagai peralatan yang sulit didapat dan mahal.

3)      Metode ini menuntut ketelitian, keuletan, dan ketabahan.

4)      Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.

 Metode Tugas dan Resitasi

Metode resitasi (penugasan) adalah metode penyajian bahan dimana guru memberikan tugas agar siswa melakukan kegiatan belajar. Metode ini diberikan karena bahan pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah (PR), tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas biasanya dilaksanakan di rumah, sekolah, perpustakaan, dan tempat lainnya. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar, baik secara individual maupun kelompok.

Ada langkah-langkah yang harus diikuti dalam penggunaan metode tugas atau resitasi, yaitu:

a.      Fase Pemberian Tugas

Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan:

– Tujuan yang akan dicapai

– Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.

–  Sesuai dengan kemampuan siswa

–  Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa

–  Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas itu.

b. Langkah Pelaksanaan Tugas

– Diberikan bimbingan atau pengawasan oleh guru.

– Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja

– Diusahakan atau dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.

– Dianjurkan agar siswa mencatat hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.

c. Fase Mempertanggungjawabkan Tugas

– Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakan.

– Ada tanya jawab atau diskusi kelas

– Penilaian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes atau cara lainnya.

Fase ini disebut dengan ”resitasi”. Metode tugas dan resitasi mempunyai kelebihan dan kekurangan;

1)      Kelebihannya

a)       Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok.

b)      Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan.

c)       Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.

d)      Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

2)      Kekurangannya

a)      Siswa sulit dikontrol

b)      Untuk tugas kelompok, biasanya yang aktif mengerjakan hanya anggota tertentu saja.

c)      Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.

d)     Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan.

Metode Diskusi

Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Di dalam diskusi terjadi proses belajar mengajar, dimana interaksi antara dua atau lebih individu terlibat, saling tukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, siswa ikut aktif.

a. Kebaikannya

1)      Merangsang kreativitas anak didik dalam bentuk ide, gagasan, dan terobosan baru dalam pemecahan suatu masalah.

2)      Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.

3)      Memperluas wawasan.

4)      Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.

b. Kekurangannya

1)      Pembicaraan terkadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang panjang.

2)      Tidak dapat dipakai pada kelompok besar

3)      Peserta mendapat informasi yang terbatas.

4)      Mungkin dikuasai orang-orang yang suka bicara.

Metode Sosiodrama

Sosiodrama pada dasarnya mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial. Tujuan yang diharapkan dengan penggunaan metode sosiodrama antara lain:

a)      Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain

b)      Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab

c)      Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan

d)     Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah

Petunjuk menggunakan metode sosiodrama adalah:

a)      Tetapkan dahulu masalah sosial yang menarik

b)      Ceritakan pada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.

c)      Tetapkan siswa yang bersedia untuk memainkan peranannya di depan kelas.

d)     Jelaskan pada pendengar mengenai peranan mereka pada saat sosiodrama berlangsung.

e)      Beri kesempatan pada pelaku untuk berunding.

f)       Akhiri sosiodrama pada saat situasi pembicaraan mencapai ketegangan.

g)      Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan persoalan yang ada pada sosiodrama.

h)      Jangan lupa menilai sosiodrama sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut.

Metode sosiodrama mempunyai kelebihan dan kekurangan.

a) Kelebihan metode sosiodrama

1)      Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan diramalkan. Dengan demikian, daya ingat siswa harus tajam dan tahan lama.

2)      Siswa terlatih untuk berinisiatif dan kreatif.

3)      Bakat yang ada pada siswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul bilat seni drama.

4)      Kerja sama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.

5)      Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.

6)      Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.

b) Kelemahan metode sosiodrama

1)      Anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang kreatif.

2)      Banyak memakan waktu.

3)      Perlu tempat yang luas.

4)      Mengganggu kelas lain karena tepuk tangan penonton.

Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau tiruan, dan disertain dengan penjelasan lisan. Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, mengerjakan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.

Metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kekurangan.

a. Kelebihan

1)      Dapat membuat pengajaran lebih jelas dan konkret.

2)      Lebih mudah memahami apa yang terjadi.

3)      Proses pengajaran lebih menarik.

4)      Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri.

b. Kekurangan

1)      Memerlukan keterampilan guru secara khusus.

2)      Fasilitas seperti peralatan, tempat, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.

3)      Demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang dan waktu yang panjang.

Metode Problem Solving

Langkah-langkah metode ini sebagai berikut:

  1. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan.
  2. Mencari jalan atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
  3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
  4. Menguji jawaban sementara dengan demonstrasi, tugas diskusi, dan lain-lain.
  5. Menarik kesimpulan.

Metode Problem Solving mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a. Kelebihan

1)      Membuat pendidikan di sekolah menjadi relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

2)      Membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, bila menghadapi permasalahan di dalam kehidupan dalam keluarga, bermasyarakat, dan bekerja kelak suatu kemampuan yang bermakna bagi kehidupan.

3)      Merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.

b.  Kekurangan

1)      Menentukan suatu masalah memerlukan kemampuan dan keterampilan guru.

2)      Memerlukan waktu yang cukup banyak.

3)      Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan masalah sendiri atau kelompok.

Metode Karyawisata

Metode Karyawisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti pabrik sepatu, bengkel mobil, toserba, peternakan atau perkebunan, museum dan sebagainya.

Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a.  Kelebihannya

1)      Memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.

2)      Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.

3)      Dapat merangsang kreativitas siswa.

4)      Informasi lebih luas dan aktual.

b. Kekurangannya

1)      Fasilitas dan biaya yang diperlukan sulit disediakan siswa.

2)      Memerlukan persiapan yang matang.

3)      Memerlukan koordinasi dengan guru serta bidang studi lain agar tak terjadi tumpang tindih waktu dan kegiatan selama karyawisata.

4)      Sering unsur kreasi menjadi prioritas utama daripada studinya.

5)      Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka pada kegiatan studi.

Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.

Metode ini mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a.  Kelebihannya

1)      Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa.

2)      Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir termasuk daya ingatan.

3)      Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.

 

b.  Kekurangannya

1)      Siswa merasa takut.

2)      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.

3)      Waktu banyak terbuang.

4)      Bila siswa banyak, tidak mungkin cukup waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.

Metode Latihan

Metode latihan merupakan suatu cara mengajar untuk menanamkan kebiasaan tertentu, sarana untuk memelihara kebiasaan yang baik, untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempatan dan keterampilan.

Metode latihan mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

a.  Kelebihan

1)      Untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat alat, menggunakan alat, dan terampil menggunakan peralatan olahraga.

2)      Untuk memperoleh kecakapan mental.

3)      Untuk memperoleh kecakapan asosiasi seperti penggunaan simbol, membaca peta, dan sebagainya.

4)      Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.

5)      Pemanfaatan kebiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaannya.

6)      Membuat gerakan yang kompleks, rumit menjadi lebih otomatis.

b.  Kekurangan

1)      Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian.

2)      Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.

3)      Latihan yang dilakukan berulang-ulang merupakan hal yang membosankan.

4)      Membentuk kebiasaan yang kaku.

Metode Ceramah

Metode ceramah adalah metode yang boleh dikaitkan dengan metode tradisional. Metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru. Metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.

 Kelebihan Metode Ceramah

1)      Guru mudah menguasai kelas.

2)      Mudah mengorganisasikan tempat duduk.

3)      Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.

4)      Mudah mempersiapkan dan melaksanakan.

5)      Mudah menerangkan materi.

Kelemahan Metode Ceramah

1)      Mudah menjadi verbalisme (pengertian kata-kata)

2)      Yang visual menjadi rugi, yang auditif (mendengar) lebih besar menerimanya.

3)      Bila selalu digunakan akan membosankan.

4)      Guru sukar sekali menyimpulkan siswa mengerti dan  tertarik pada ceramahnya.

5)      Siswa menjadi pasif.

D.    Praktek Penggunaan Metode Mengajar
Ceramah, Tanya Jawab dan Tugas

Metode ceramah banyak kekurangannya sehingga guru harus memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya. Tanya jawab ini untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap apa yang telah disampaikan guru. Tahap selanjutnya siswa diberi tugas, misalnya membuat kesimpulan hasil ceramah, pekerjaan rumah, diskusi.


Ceramah, Tanya Jawab dan Tugas

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Menciptakan kondisi belajar siswa
2. Pelaksanaan
  1. Penyajian, tahap guru menyampaikan bahan pelajaran (metode ceramah)
  2. Asosiasi / komparasi, artinya memberi kesempatan pada siswa untuk menghubungkan dan membandingkan materi ceramah yang telah diterimanya melalui tanya jawab (metode tanya jawab)
  3. Generalisasi/kesimpulan, memberikan tugas kepada siswa untuk membuat kesimpulan melalui hasil ceramah (metode tugas)
3. Evaluasi
  1. Mengadakan penilaian terhadap pemahaman siswa mengenai bahan yang telah diterimanya, melalui tes lisan dan tulisan.

Ceramah, Diskusi dan Tugas

Penggunaan ketiga jenis ini dapat dilakukan diawali dengan pemberian informasi kepada siswa tentang bahan yang akan didiskusikan siswa, lalu memberikan masalah untuk didiskusikan kemudian diikuti dengan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa.

Ceramah, Diskusi dan Tugas

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Mempersiapkan kondisi belajar siswa
  1. Memberi informasi tentang masalah tugas dalam diskusi (metode ceramah).
  2. Mempersiapkan sarana/prasarana untuk melakukan diskusi (tempat, peserta dan waktu)
2. Pelaksanaan
  1. Siswa melakukan diskusi

–          Guru merangsang seluruh peserta berpartisipasi dalam diskusi

–          Memberi kesempatan pada semua anggota untuk aktif.

–          Mencatat tanggapan/saran dan ide-ide

 

3. Evaluasi
  1. Memberikan tugas pada siswa untuk:

–          Membuat kesimpulan diskusi

–          Mencatat hasil diskusi

–          Menilai hasil diskusi

–          dan sebagainya

Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen

Metode eksperimen adalah metode yang siswanya mencoba mempraktekkan suatu proses, setelah melihat atau mengamati apa yang telah didemonstrasikan oleh demonstrator. Metode demonstrasi dan eksperimen dapat digabungkan; artinya setelah dilakukan demonstrasi kemudian diikuti eksperimen dengan disertai penjelasan secara lisan (ceramah).

Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Menciptakan kondisi belajar siswa

–          menyediakan alat-alat demonstrasi

–          tempat duduk siswa

2. Pelaksanaan
  1. Mengajukan masalah kepada siswa (ceramah)

Melaksanakan demonstrasi:

–          Menjelaskan dan mendemonstrasikan suatu prosedur atau proses.

–          Usahakan seluruh siswa dapat mengikuti atau mengamati demonstrasi dengan baik.

–          Beri penjelasan yang padat, tapi singkat.

–          Hentikan demonstrasi kemudian adakan tanya jawab.

3. Evaluasi
  1. Beri kesempatan pada siswa untuk tindak lanjut mencoba melakukan sendiri (eksperimen)
  2. Membuat kesimpulan hasil demonstrasi
  3. Mengajukan pertanyaan pada siswa.

 

Ceramah, Sosiodrama dan Diskusi

Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah dan latihan, sehingga dilakukan secara spontan. Masalah yang didramatisasikan adalah mengenai situasi sosial. Sosiodrama akan menarik bila pada situasi yang sedang memuncak, kemudian dihentikan. Selanjutnya diadakan diskusi:

Ceramah, Sosiodrama dan Diskusi

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Menentukan dan menceritakan situasi sosial yang akan didramatisasikan (ceramah)
  2. Memilih para pelaku
  3. Mempersiapkan pelaku untuk menentukan peranan masing-masing.
2. Pelaksanaan
  1. Siswa melakukan sosiodrama.
  2. Guru menghentikan sosiodrama pada saat situasi memuncak.
  3. Akhiri sosiodrama dengan diskusi tentang jalan cerita atau pemecahan masalah.
3. Evaluasi / Tindak Lanjut
  1. Siswa menilai atau menanggapi sosiodrama
  2. Siswa membuat kesimpulan hasil sosiodrama

Ceramah, Problem Solving dan Tugas

No Langkah Jenis Kegiatan Belajar Mengajar
1. Persiapan
  1. Menentukan dan menjelaskan masalah (ceramah).
  2. Menyediakan alat/buku-buku yang relevan.
2. Pelaksanaan
  1. Siswa mengadakan identifikasi masalah.
  2. Merumuskan hipotesis atau jawaban sementara.
  3. Mengumpulkan data atau keterangan yang relevan.
  4. Menguji hipotesis (siswa berusaha memecahkan masalah yang dihadapinya dengan data yang ada)
3. Evaluasi
  1. Membuat kesimpulan pemecahan masalah
  2. memberi tugas kepada siswa untuk mencatat hasil pemecahan masalah (metode tugas)

 BAB V

KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR

A.    Pengertian Keberhasilan

”Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK) nya dapat tercapai”. Untuk mengetahui tercapai tidaknya TIK, guru mengadakan tes formatif. Fungsi penilaian ini untuk memberikan umpan balik kepada guru dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dan melaksanakan program remedial bagi siswa yang belum berhasil.

B.     Indikator Keberhasilan

  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran atau instruksional khusus (TIK) telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.

C.    Penilaian Keberhasilan

1)      Tes Formatif

Penilaian ini digunakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok bahasan. Hasil tes dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar bahan tertentu dalam waktu tertentu.

2)      Tes Subsumatif

Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa. Hasil tes subsumatif ini dimanfaatkan untuk memperbaiki proses belajar mengajar dan diperhitungkan dalam menentukan nilai rapor.

3)      Tes Sumatif

Tes ini diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap pokok bahasan yang telah diajarkan selama satu tahun pelajaran. Tujuannya adalah untuk menetapkan tingkat atau taraf keberhasilan belajar siswa. Hasil dari tes sumatif ini dimanfaatkan untuk kenaikan kelas, menyusun peringkat atau sebagai ukuran mutu sekolah.

  1. D.    Tingkat Keberhasilan
    1. Istimewa / maksimal   : Apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai oleh siswa.
    2. Baik sekali / optimal    : Apabila sebagian besar (76% sampai dengan 99%) bahan pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai siswa.
    3. Baik/minimal   : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan hanya (60% sampai dengan 75%) dikuasai siswa.
    4. 4.      Kurang            : Apabila bahan pelajaran yang diajarkan       kurang dari 60% dikuasai oleh siswa.
  2. E.     Program Perbaikan

Taraf atau tingkat keberhasilan proses belajar mengajar antara lain:

  1. Apabila 75% dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar atau mencapai taraf keberhasilan minimal, optimal, atau bahkan maksimal.
  2. Apabila 75% atau lebih dari jumlah siswa yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang, maka proses belajar mengajar berikutnya hendaknya bersifat remedial.

Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a)      Mengulang pokok bahasan seluruhnya

b)      Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai

c)      Menyelesaikan masalah atau soal-soal bersama-sama

d)     Memberikan tugas-tugas khusus.

Sumber :

Strategi  Belajar Mengajar,Drs. Syaiful Bahri Djamara,Drs. Aswan Zain

2 thoughts on “Strategi Belajar Mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s