Hai All…


Hei… Hei… Selamat Berjumpa kembali dengan Maya Sang Pemimpi
sang pemimpi bukan berarti cuma bisa bermimpi aja yah… Jangan lupa berusaha buat dapatkan mimpi-mimpi yang kalian punya, Kebahagiaan berawal dari mimpi-mimpi sederhana yang memotivasi kita untuk mendapatkannya..ūüôā

 

Blog ini adalah blog kedua saya… Punya 2 Blog.. karena jujur saja.. ada Mata Kuliah yang saya ambil sekarang yang berkaitan dengan web desain. Disini saya akan mempostingkan beberapa makalah yang pernah saya buat selama saya kuliah…

 

Website ini Masih Baru.. Jadi Bantu saya Belajar dan mohon dukungannya…

Mohon maaf kalau masih banyak kekurangannya…

Tetap Semangat yah… Semoga bermanfaat…

ūüôā

 

 

Kemampuan Komunikasi Matematik


Menurut Widjaja (2003: 8) Komunikasi dalam bahasa inggris disebut dengan communication atau  dari kata communicatio atau dari kata communis yang berarti sama atau sama maknanya atau pengertian sama. Komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seorang kepada orang lain.

Komunikasi menurut Masykur dan Halim Fathoni ( 2007: 42) merupakan proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima. Hubungan komunikasi dan interaksi antara si pengirim dan si penerima, dibangun berdasarkan penyusunan kode atau simbol bahasa oleh pengirim dan pembongkaran ide atau simbol bahasa oleh penerima. Dapat dikatakan syarat terjadinya komunikasi harus terdapat dua pelaku, yaitu pengirim dan penerima pesan.

Dalam pembelajaran komunikasi diartikan sebagai proses penyampaian pesan dari sumber pesan ke penerima pesan melalui saluran atau media tertentu (Sanaky, 2007: 9).

Matematika memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa yang terdiri dari simbol-simbol dan angka. Sehingga, jika kita ingin belajar matematika dengan baik, maka langkah yang harus ditempuh adalah dengan menguasai bahasa pengantar dalam matematika.

Dalam pembelajaran matematika standar komunikasi menitikberatkan pada pentingnya dapat berbicara, menulis, menggambarkan, dan menjelaskan konsep-konsep matematika (Van De Walle, 2008: 4). Belajar komunikasi dalam matematika membantu perkembangan interaksi dan pengungkapan ide-ide di dalam kelas karena siswa belajar dalam suasana yang aktif. Cara terbaik untuk berhubungandengan suatu ide adalah mencoba dalam menyampaikan ide tersebut kepada orang lain.

Dalam judul ‚Äúwhy teach mathematics‚ÄĚ Cockroft dalam Shadiq (2009: 5) menyatakan bahwa

We believe that all these perception of the usefulness of mathematics arise from the fact that mathematics provides a means of communication which is powerful, concise, and unambogous

 

Pernyataan tersebut menyatakan akan pentingnya para siswa untuk belajar matematika dengan alasan bahwa matematika merupakan alat komunikasi yang sangat kuat, teliti, dan tidak membingungkan. Seorang siswa disamping mampu bernalar dan memecahkan masalah dengan baik sebagai suatu kegiatan atau  aktivitas berpikir, maka ia harus mengkomunikasikan kemampuan tersebut secara nyata baik lisan maupun tertulis.

Dari beberapa definisi diatas, kemampuan komunikasi matematik dapat dimaknai sebagai suatu peristiwa menyampaikan pesan yang berlangsung dalam pembelajaran matematika dikelas baik secara tertulis maupun lisan sebagai wahana interaksi antara guru dan siswa.

Diperlukan suatu indikator untuk mengukur kemampuan komunikasi matematik siswa baik komunikasi tertulis maupun komunikasi lisan. Jihad dan Haris (2009: 149) menyatakan indikator yang menunjukkan komunikasi antara lain:

1)        Menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, dan diagram.

2)        Mengajukan dugaan (conjectures).

3)        Melakukan manipulasi matematika.

4)        Menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan atau bukti terhadap beberapa solusi.

5)        Menarik kesimpulan dari pernyataan.

6)        Memeriksa kesahihan suatu argumen.

7)        Menemukan pola atau sifat dari gejala matematis untuk membuat generalisasi.

sumber :

Widjaja, H.A.W. 2003. Komunikasi : Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara.

Masykur, Moch dan Halim Fathan, Abdul. 2007. Mathematical Intellegence. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Sanaky, Hujair AH. 2007. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safira Insania Press.

Shadiq, Fahar. 2009. Kemahiran Matematika. Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Van De Walle, John A. 2006. Sekolah Dasar dan Menengah Matematika Pengembangan Pengajaran.  Jakarta: Erlangga.

Apa sih Problem Posing Itu?


As’ari menyatakan bahwa problem posing berasal dari istilah bahasa inggris yang mempunyai padanan kata  dalam bahasa indonesia artinya pembentukan soal. Problem posing  (pengajuan soal) merupakan salah satu proses pembelajaran yang berbasis konstruktivisme. Teori ini menekankan bahwa siswa sebagai pelajar tidak hanya menerima pengetahuan tapi secara aktif mengkonstruksikannya secara individual (http://abdussakir.wordpress.com/2009/02/12/pembelajaranmatematika-dengan-problem posing. Diakses 1 maret 2012).

Bworn dan Walter dalam Isik, dkk prospective teacher’s skills in problem posing with regard ro different problem posing models (2011: 485) menyatakan bahwa problem posing dipandang sebagai komponen penting dalam kurikulum matematika dan juga dalam kegiatan matematika.

NCTM(National Council of Teachers of Mathematics) dalam Isik, dkk (2011: 485) menyatakan bahwa dalam problem posing guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk menimbulkan masalah sendiri.

Dalam penelitian pendidikan matematika, problem posing sering digunakan sebagai metode pembelajaran. Menurut Silver dan Cai problem posing memiliki beberapa pengertian. Pertama, problem posing ialah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Kedua, problem posing ialah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain. Ketiga, problem posing ialah perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau sesudah penyelesaian suatu soal (http://abdussakir.wordpress.com/2009/02/12/pembelajaranmatematika-dengan-problem posing. Diakses 1 maret 2012).

Menurut Suzanah dan Amin (2008: 3) problem posing dalam pembelajaran matematika merupakan suatu bentuk metode pemberian tugas kepada siswa untuk membuat atau mengajukan masalah dari informasi yang telah disediakan serta menyelesaikannya. Masalah yang diajukan berasal dari soal yang sudah dikerjakan atau informasi tertentu yang diberikan guru kepada siswa.

Kilpatrik dalam Norman dan Bakar (2011: 1) menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran problem posing dapat mempengaruhi keberhasilan akademik siswa dengan cara yang positif, dapat berguna sebagai strategi pemecahan masalah.

Secara umum, langkah-langkah Problem Posing secara berkelompok :

  1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar.
  2. Guru menyajikan informasi baik secara ceramah atau tanya jawab, selanjutnya memberi contoh cara pembuatan soal dari informasi yang diberikan.
  3. Guru membentuk kelompok belajar 5-6 siswa setiap kelompok yang bersifat heterogen baik kemampuan, ras, dan jenis kelamin.
  4. Selama kerja kelompok berlangsung, guru membimbing kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam membuat soal dan menyelesaikannya.
  5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dengan cara masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pekerjaannya.
  6. Guru memberi penghargaan kepada siswa atau kelompok yang telah menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.

sumber:

Abdussakir. 2006. Pembelajaran Matematika Dengan Problem Posing. Diunduh dari Http://abdussakir.wordpress.com/2009/02/13/pembelajaran-matematika-dengan-problem posing.

Isik, dkk. 2011. Prospective Teacher’s Skills in Problem Posing with Regard to Different Problem Posing Models. Procedia Social and Behavior Sciences 15(2011) 485-489

Bakar, Nor dan Norman, Ilfi. 2011. Secondary School Student’s Problem Posing strategies: Implications To Secondary School Student’s Problem Posing Performances.  Journal of Edupres/Vol.1 September Pages1-8.

Suzanah dan Amin. 2008. Implementasi Model Struktur Intelek Dengan Pengajuan Masalah Pada Materi Segi Empat. Jurnal Matematika Tahun 2008 Vol 51 No 2. Halaman 3.

Pembelajaran Matematika Dengan Kecerdasan Jamak


Apakah anda pernah mendengar tentang kecerdasan jamak? Apakah kecerdasan jamak itu? Dan apa hubungannya dalam pembelajaran matematika?

Pada dasarnya, Kecerdasan jamak  merupakan gabungan dari beberapa kecerdasan yang dimiliki oleh setiap individu untuk membuat suatu kesatuan kemampuan  pribadi yang cukup tinggi. Setiap individu mempunyai kecakapan yang digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dalam kaitannya dengan pembelajaran matematika, individu mempunyai kecakapan untuk menghitung , mengkuantitatif , merumuskan prroposisi dan hipotesis , serta memecahkan perhitungan perhitungan matematis yang kompleks.

Potensi anak dari manapun dia berasal (termasuk anak-anak Indonesia) berdasarkan riset terkini diyakini sangat luar biasa dan menakjubkan (sarwa potensi), sehingga cukup tepat disebut golden ages priority. Gambaran tentang potensi anak yang diyakini terpercaya, secara sederhana saat ini salah satunya  ditunjukkan dengan teori  multiple intelligences (kecerdasan jamak) yang diajukan dan dipopulerkan oleh Howard Gardner. Untuk sementara, hingga saat ini telah terindentifikasi beberapa ragam kecerdasan anak, yaitu: kecerdasan linguistik (cerdas kosakata), kecerdasan logika dan matematika (cerdas angka dan rasional), kecerdasan spasial (cerdas ruang/tempat/gambar), kecerdasan kinestetika-raga (cerdas raga), kecerdasan musik (cerdas musik), kecerdasan interpersonal (cerdas orang), kecerdasan intrapersonal (cerdas diri), kecerdasan naturalis (cerdas alam), serta kecerdasan eksistensial.

Pendidikan sekarang ini terlalu dipersempit pada pengembangan kecerdasan pikir yang diukur dengan IQ saja. Pengertian ini harus digeser pada pemahaman bahwa sebenarnya setiap orang memiliki kecerdasan jamak/majemuk. Pendidikan dan pembelajaran seharusnya memobilisasi kecerdasan jamak/majemuk. Artinya, sekolah dalam menyusun kurikulum, atau pendidik dalam menyusun proses pembelajaran, atau orang tua dalam mendidik dan melatih putra-putrinya, bertanya bagaimana dapat membantu sebaik mungkin anak-anak yang memiliki kecerdasan logika-bahasa (bercerita), musik, berelasi dan berkomunikasi, kecerdasan logika-matematika, kecerdasan gerakan badan, kecerdasan ruang, dan kecerdasan intra pribadi. Kurikulum kita yang tradisional ternyata tidak banyak membantu perkembangan kecerdasan peserta didik. Banyak anak tidak sukses dalam belajar, hasilnya dibawah ukuran kecerdasannya, sebab tidak ada sarana dan kesempatan untuk mengambangkan dan melatih kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki. Menurut Howard Gardner, hanya dua saja yang sangat ditekankan di sekolah-sekoloah yaitu kecerdasan logika matematis dan logika bahasa.
Dalam kecerdasan jamak, anak yang mungkin tidak mampu di dalam kecerdasan logika matematika dan bahasa, dia dapat dikembangkan dengan lima kecerdasan lainnya. Mungkin dapat dibantu untuk mengembangkan kecerdasan musiknya, keterampilan gerak badannya dalam menari atau berolah raga, dilatih kecerdasannya dalam pergaulan, bagaimana memahami orang lain, bagaimana bekerjasama. Singkatnya setiap anak dapat dilatih dan dikembangkan melalui tujuh macam kecerdasan yang ada. Misalnya sejauh mungkin di dalam proses pembelajaran atau di dalam kelas, pendidik mengusahakan pusat-pusat pembelajaran atau waktu-waktu yang difokuskan pada bermacam kecerdasan yang ada. Misalnya ada pusat seni (baik untuk seni rupa/lukis, drama), pusat matematika (untuk berhitung, menggambar angka, himpunan), pusat musik (seni musik dan seni suara), pusat bahasa (untuk membaca, mengarang, komunikasi), pusat proyek bersama, dan pusat untuk kerja individual.

             Salah satu penyebab kegagalan belajar di sekolah dikarenakan pendidik memandang bahwa setiap anak itu memiliki pola belajar mengajar yang sama, sehingga tidak menyediakan proses dan menu pembelajaran yang berbeda-beda. Akibatnya hanya anak-anak tertentu saja yang maju yaitu yang memiliki kecerdasan logika bahasa dan matematika yang lumayan baik. Kita kurang mengembangkan metode kolaboratif dan variatif dan pusat-pusat pembelajaran, sehingga sangat sedikit anak yang terbantu dalam mengembangkan dan melatih kecerdasan. Kita juga kurang mengembangkan pendekatan pembelajaran yang berdasar pada kecerdasan majemuk seperti supermarket yang menyediakan berbagai menu dan cara pendekatan pembelajaran.

Di Taman Kanak-Kanak dan kelas I dan II Sekolah Dasar sangat diperlukan menu dan proses pembelajaran berdasarkan kecerdasan jamak/majemuk. Pendidik merancang sedemikian rupa ruangan kelas, alat peraga, alat permainan, kelompok belajar, metode, tugas, sehingga ketujuh kecerdasan yang ada dapat dilatihkan dan dikembangkan. Juga yang tidak kalah penting adalah menyediakan sarana dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berinteraksi, baik berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun berinteraksi secara sosial dengan orang-orang terdekat. Sebab suasana yang kondusif dalam pergaulan (relasi dan komunikasi), serta kemampuan untuk mengenal diri sendiri, mengembangkan sikap empati, simpati dan juga rasa persaudaraan yang saling mengembangkan.

Hal ini mengarahkan perhatian kepada pembelajaran nilai-nilai dalam kehidupan melalui matematika seperti jujur, disiplin, tepat waktu dan tanggung jawab. Untuk itu siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran kritis, sistematis, logis dan kreatif, dan kemampuan bekerjasama yang efektif. Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar konsepnya, sehingga memungkinkan siswa berpikir rasional.

Pembelajaran Inovativ


BAB 1

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

            Aktivitas proses pembelajaran merupakan inti dari dari proses pendidikan, sedangkan guru adalah salah satu pemegang utama di dalam menggerakkan kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan. Tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing dan melatih. Oleh karenanya, tanggung jawab keberhasilan pendidikan berada dipundak guru. Untuk itu, dibutuhkan guru yang memiliki wawasan pengetahuan dan ketrampilan sehingga membuat proses pembelajaran aktif yang mampu menciptakan suasana pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan menyenangkan.

Mengajar bukan semata menceritakan bahan pembelajaran kepada siswa. Dan juga bukan merupakan konsekuensi otomatis penuangan kebenak siswa. Namun belajar juga memerlukan keterlibatan mental dan perbuatan siswa sendiri. Penjelasan dan pemeragaan guru semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang optimal. Hasil belajar yang optimal hanya akan diperoleh jika proses pembelajaran yang dilakukan banyak melibatkan siswa untuk beraktifitas serta mengembangkan kreatifitas  yang dimiliki siswa secara optimal.

            Proses pembelajaran akan menjadi aktif jika siswa terlibat langsung dalam semua penyelesaian masalah yang diberikan gurunya. Dalam prosesnya siswa bahkan sering meninggalkan tempat duduknya, bergerak leluasa, dan berfikir keras, mengkaji gagasan, memecahkan masalah, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari.

            Untuk dapat mempelajari sesuatu dengan baik, siswa perlu mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentang kompetensi yang sedang dibahas serta membahasnya dengan orang lain. Bahkan tidak cukup saja, melainkan siswa perlu mengerjakannya yakni menggambarkan sesuatu dengan cara sendiri, menunjukkan contohnya, mencoba mempraktikkan ketrampilannya, dan mengrjakan tugas yang menuntut pengetahuan yang telah atau harus mereka dapatkan.

Read More

Penelitian dan Pengembangan


 BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

            Penelitian pendidikan dan pengembangan yang lebih dikenal dengan istilah research and development (R & D). Strategi untuk mengembangkan sebuah produk pendidikan oleh Borg&Gall (1983) disebut sebagai penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan kadang pula sering disebut juga suatu pengembangan berbasis pada penelitian atau disebut juga suatu Research-based development. Dalam dunia pendidikan, penelitian dan pengembangan hadir belakangan dan merupakan jenis penelitian yang relatif baru

            Pengertian penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall (1983) adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan memvalidasi produk pendidikan. Penelitian ini mengikuti suatu langkah-langkah secara siklus. Langkah-langkah penelitian atau proses pengembangan ini terdiri atas kajian tentang temuan penelitian produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji coba lapangan sesuai dengan latar belakang dimana produk itu akan dipakai, dan melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan. Penelitian dan pengembangan pendidikan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis industry, yang temuan-temuannya dipakai untuk mendesain produk dan prosedur yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi, disempurnakan untuk memenuhi criteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu(Gall & Borg, 2003).

Yuk Baaca Selengkapnya