ILmu Pengetahuan dan Pendekatan Ilmiah


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latarbelakang

Pengetahuan dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau segala sesuatu yang berkenaan dengan hal (Moliono dkk,1988). Berkenaan dengan hal yang dikenali atau diketahui, seseorang dapat memahami dan mungkin melakukan atau mengaplikasikan tentang pengetahuan tersebut dalam situasi tertentu.

Ilmu dalam hal sebagai ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan. Ilmu pengetahuan memiliki makna yang luas dan menuntut teknik dan ketrampilan berfikir. Ilmu pengetahuan merupakan suatu usaha manusia secara terus-menerus dan mendalam dengan menggunakan metode berpikir tertentu.

Ilmu pengetahuan berawal pada kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar ( macro-cosmos) maupun alam kecil ( micro-cosmos). Kedudukan manusia sebagai makhluk di muka bumi ini selalu dibekali dengan rasa ingin tahu semenjak masih dalam masa kanak-kanak.

Penelitian merupakan penerapan pendekatan ilmiah pada pengkajian atau studi tentang suatu masalah. Penelitian merupakan suatu cara yang tepat dan sangat berguna dalam memperoleh informasi yang sahih dan dapat dipertanggung jawabkan. Tujuan penelitian ilmiah adalah untuk menemukan jawaban atas suatu masalah yang berarti (signifikan) dengan melalui pendekatan-pendekatan atau prosedur-prosedur ilmiah.

Penelitian pendidikan merupakan suatu cara yang digunakan dan dilakukan oleh para pendidik atau peneliti pendidikan untuk memperoleh informasi yang sangat penting dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah mengenai proses atau kegiatan pendidikan. Maksud dari dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah artinya bahwa tindakan tersebut dapat dilandasi oleh fakta-fakta atau data yang dianalisis untuk dipakai sebagai wahana mengambil keputusan.

IlmuPengetahuan sering dikaitkan dengan pengalaman atau pengetahuan yang dialami manusia. Selain itu pengetahuan kadang dijadikan tolak ukur seseorang dalam menentukan langkah apa yang selanjutnya akan ditempuh. Padahal sebenarnya antara pengalaman dan ilmu pengetahuan itu sangatlah berbeda jika dipandang dari sisi kemanfaatannya.

Seorang peneliti kadang mengalami kesulitan dalam menggunakan pengetahuan dan ilmu pengetahuan terutama dalam upaya untuk menyatukan pendapat antara pengetahuan yang kita miliki dengan ilmu pengetahuan yang kita pelajari. Seorang peneliti terkadang juga mengalami kesulitan dalam memahami dan menelaah sumber pemikiran yang nantinya akan digunakan dalam penelitian.

Oleh karena itu penulis sekarang mencoba untuk mengulas kembali mengenai perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan pengalaman dalam melakukan penelitian. Sehingga diharapkan mampu menjadikan seorang peneliti lebih memahami suatu pemikiran yang nantinya akan digunakan dalam melakukan penelitian.

B.     Rumusan Masalah

1. Apa perbedaan ilmu pengetahuan dan pengalaman?

2. Bagaimana paradigma berperan dalam ilmu pengetahuan dan karya ilmiah atau penelitian?

C.    Tujuan Review

Tujuan Umum

  1. Membedakan  ilmu pengetahuan dan pengalaman.
  2. Mengetahui peranan paradigma dalam ilmu pengetahuan dan karya ilmiah atau penelitian.

Tujuan Khusus

a. membedakan ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam penerapan melakukan penelitian ilmiah.

b. mengetahui peranan paradigma dalam ilmu pengetahuan dan karya tulis  ilmiah/penelitian melalui

D. Manfaat Review

1.    Manfaat Teoritis

Secara umum review ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pada peningkatan kualitas penelitian ilmiah. Khususnya untukpenelitian pendidikan yang didasari oleh pemikiran yang mengacu pada ilmu pengetahuan.

2.    Manfaat Praktis

Review buku ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi dalam memahami perbedaan antara ilmu pengetahuan dan pengalaman serta pendekatan ilmiah yang akan digunakan.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Ilmu Pengetahuan

Ilmu (atau ilmu pengetahuan) adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia  dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segiinidibatasi agar dihasilkanrumusan-rumusan yang pasti.Ilmumemberikankepastiandenganmembatasilingkuppandangannya, dankepastianilmu-ilmudiperolehdariketerbatasannya(Wikipedia.org).

Secara etimologis, ilmudalambahasa Arab “ilm yang berartimemahami, mengerti, ataumengetahui. Dalamkaitanpenyerapankatanya, ilmupengetahuan dapatberartimemahamisuatupengetahuan, danilmusosialdapatberartimengetahuimasalah-masalahsosial,danlain sebagainya(Wikipedia.org).

B. Pengalaman

Pengalaman sering disebut sebagai suatu bentuk pengetahuan seseorang yaitu merupakan hasil dari keingintahuan manusia. Menurut Poedjawijatna (1998:22-23), pengetahuan mempunyai dua tingkatan yaitu pengetahuan biasa dan ilmu. Pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang digunakan orang dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengetahui seluk-beluk yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya sedangkan pengetahuan ilmu sering dikenal dengan istilah ilmu yang merupakan peningkatan dari sebuah pengetahuan.

C. Pendekatan Ilmiah

Pendekatan ilmiah merupakan bentuk sisitematis yang khusus dari seluruh pemikiran dan telaah reflektif. Pendekatan ilmiah adalah mekanisme atau cara mendapatkan pengetahuan dengan prosedur yang didasarkan pada suatu struktur logis yang terdiri atas tahapan kerja (1) adanya kebutuhan obyektif, (2) perumusan masalah, (3) pengumpulan teori, (4) perumusan hipotesis, (5) pengumpulan data/informasi/fakta, (6) analisis data, dan (7) kesimpulan(disebut daur logico-hypothetico-verifikatif).

Sifat pendekatan ilmiah, yaitu (1) Efisien dalam penggunaan sumber daya( tenaga, biaya, waktu); (2) terbuka(dapat dipakai oleh siapa saja); dan Teruji(prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan). Sedangkan pola pikir dalam pendekatan ilmiah, yaitu (1) Induktif, pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum; (2) Deduktif, pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus.

D. Paradigma

Paradigmadalamdisiplinintelektualadalahcarapandangseseorangterhadapdiridanlingkungannya yang akanmempengaruhinyadalamberpikir (kognitif), bersikap (afektif), danbertingkahlaku (konatif).Paradigmajugadapatberartiseperangkatasumsi, konsep, nilai, danpraktek yang di terapkandalammemandangrealitasdalamsebuahkomunitas yang sama, khususnya, dalamdisiplinintelektual. Kata paradigma sendiri berasal dari abad pertengahan di Inggris yang merupakan kata serapan dari bahasa Latin ditahun 1483 yaitu paradigma yang berarti suatu model atau pola.

BAB III

ILMU PENGETAHUAN DAN PENDEKATAN ILMIAH

 

A. Ilmu Pengetahuan dan Pikiran Sehat

Whitehead ( Kerlinger, 1998) pernah mengungkapkan bahwa dalam pemikiran kreatif, pikiran sehat bukanlah merupakan panutan yang baik. “Satu-satunya kriterium penilaiannya ialah bahw gagasan-gagasan baru harus mirip dengan gagasan lama”. Dari pernyataan tersebut maka dapat diartikan bahwa pikiran sehat adalah serangkaian konsep dan pola konseptual yang memenuhi kebutuhan praktis umat manusia.

Antara ilmu dengan pikiran sehat (comon sense) memiliki berbagai perbedaan yaitu :

  1. Penggunaan pola konseptual dan struktur teoritis yang berbeda.
  2. Ilmuwan secara sistematis dan empiris menguji teori-teori dan hipotesi-hipotesisnya.
  3. Terletak pada pengertian tantang kendali at au kontrol.
  4. Ilmuterus – menerusterpancangpadahubunganantarafenomena – fenomena, sedangkancommon sense menjelaskanfenomena.
  5. Perbedaan dari segi pengamatan fenomena antara ilmu dan comon sense.

B. Empat Metode Pengetahuan

             Menurut Charles Peirce (Kerlinger,1998) ada empat jalan untuk memperoleh pengetahuan yaitu :

1. dengan cara kegigihan atau keuletan

Melalui cara ini kita dapat memegang teguh kebenaran yakni kebenaran yang kita kenal sebagai hal yang benar karena kita memegangnya teguh-teguh dan mengetahuinya sebagai sesuatu yang benar.

2. ke arah pengetahuan yang kukuh (cara otoritas)

Menurut Peirce (Kerlinger,1998) cara ini lebih unggul daripada kegigihan karena manusia dapat bisa menggunakannya sebagai pangkal tolak kemajuan meskipun kemajuan itu lamban.

3. untuk mendapatkan pengetahuan atau keyakinan kukuh adalah a priori

            Cara ini diunggulkan karena ada anggapan bahwa proposisi yang diterima oleh penganut cara a priori tidak lagi membutuhkan pembuktian apapun.

4. metode ilmu pengetahuan

Pendekatan ini memiliki ciri yang berbeda dari ketiga pendekatan diatas yaitu adanya kemampuan untuk mengkoreksi diri.

 C. Ilmu dan Fungsinya

Statis mengandung arti bahwa ilmu pengetahuan merupakan kegiatan yang memberikan sumbangan berupa informasi sistematis kepada dunia.

Pandangan dinamis melihat ilmu pengetahuan sebagai suatu kegiatan yakni hal-hal yang dilakukan oleh para ilmuwan.

Sedangkan fungsi dari ilmu pengetahuan adalah menetapkan hukum-hukum umum yang meliputi perilaku kejadian dan objek yang dikaji oleh ilmu yang bersangkutan. Sehingga memungkinkan kita untuk mampu mengaitkan antara satu kejadian dengan kejadian lain yang belum kita kenal.

 D. Penelitian Ilmiah Suatu Definisi

             Penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis,terkontrol,empiris,sn kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan hipotesis-hipotesis tentang hubungan yang dikira terdapat antara fenomena-fenomena.

E. Pendekatan Ilmiah

             Pendekatan ilmiah adalah mekanisme atau cara mendapatkan tpengetahuan dengan prosedur yang didsarkan pada suatu struktur logis yang terdiri atas beberapa tahapan kerja yaitu :

1. adanya kebutuhan obyektif

2. perumusan masalah

3. pengumpulan teori

4. perumusan hipotesis

5. pengumpulan data/informasi/fakta

6. analisis data

7. penarikan kesimpulan

Sifat dari pendekatan ilmiah yaitu (1) Efisien dalam penggunaan sumber; (2) terbuka ( dapat dipakai oleh siap saja); (3) teruji ( prosedurnya logis dalam memperoleh keputusan ).

Sedangkan pola pikir dalam pendekatan ilmiah yaitu :

1. induktif

Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum.

2. deduktif

Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus.

 

BAB IV

PEMBAHASAN

 

A. Perbedaan Ilmu Pengetahuan dan Pengalaman

        Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan karya ilmiah yang dihasilkan oleh ilmiawan. Salah satu contohnya, Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (mater iil saja) atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui  penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu.

Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu yaitu :

1.         Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

2.         Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.

3.         Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

4.         Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

B. Peranan Paradigma dalam Ilmu Pengetahuan dan Karya Ilmiah

Paradigma atau cara pandang seseorang sangat menentukan dalam suatu penelitian khususnya dalam menentukan pokok pikiran suatu penelitian. Selain itu paradigma dalam penelitian berperan dalam pengujian hipotesis sehingga nantinya dapat memunculkan suatu ide yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Langkah-langkah dalam suatu penelitian tidaklah tertata secara rapi baik dari langkah awal  maupun langkah selanjutnya yang akan ditempuh oeh seorang ilmuwan. Hal yang sangat penting ialah umpan balik terhadap permasalahannya, hipotesisnya, dan teori tentang hasil penelitian. Para teoritis dan peneliti proses belajar misalnya, telah sering mengubah teori-teori dan penelitian mereka sebagaii akibat dari temuan-temuan dalam eksperimen yang dilaksanakan.

Bagian dari hal yang esensial dalam penelitian ilmiah adalah upaya yang mantap dan terus-menerus untuk mereplikasikan dan mengecek temuan-temuan tentang fenomena yang dihadapi.

 

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

A. Simpulan

Sifat ilmiah yang membedakan ilmu pengetahuan dengan pengetahuan dihubungkn dengan pndangan terdahulu adalah:

1.         Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

2.         Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.

3.         Sistematis.

Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

4.         Universal.

Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia.

B. Implikasi

Simpulan diatas nantinya dapat dijadikan pedoman untuk seorang penelitii agar dapat memanfaatkan paradigma terhadap fenomena yang ada untuk menyelidiki suatu permasalahan. Selain itu juga diharapkan nantinya seorang peneliti mampu secara mandiri membedakan peran antara ilmu pengetahuan dan pengetahuan serta penggunaannya dalam penelitian.

C. Saran

1. penulis menyarankn agar nantinya untuk peneliti berikutnya mampu mendalami lebih detai lagi tentang ilmu pengetahuan dan pengetahuan dalam kehiduoannya.

2  untuk bahan kajian berikutnya diharapkan mampu menggunakan sumber teori yang lebih banyak dan menambah bahan kajian untuk review buku ini.

DAFTAR PUSTAKA

Sutama. (2011). Metode Penelitian Pendidikan. Surakarta : Fairuz Media.

Sutama. (2010). Penelitian Tindakan (teori dan praktek dalam PTK,PTS, dan PTBK). Semarang : Surya Offset.

Suryabrata,Sumadi. (1992). Metodologi Penelitian. Jakarta : CV. Rajawali.

http://www.google.co.id/search?hl=id&source=hp&biw=1137&bih=495&q=pengertian+ilmu+pengetahuan&aq=o&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=&cad=cbv

diakses tanggal 4 Maret 2011

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu Diakses tanggal 6 Maret 2011

Purwanto.(2008).Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan Pendidikan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Sandjaja,dkk. (2006). Panduan Penelitian. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Styosari,Punaji. (2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s